BELAJAR MENGAJAR DALAM AL-QURAN


Membaca adalah sarana untuk belajar dan kunci ilmu pengetahuan, baik secara etimologis berupa membaca huruf – huruf yang tertulis dalam buku – buku maupun terminologis yaitu membaca ayat – ayat kauniyah ( hal 207). Al-Quran mengajak umat manusia untuk mencari ilmu dengan bernagai metode, salah satunya dalah metode belajar langsung yaitu mendatangi guru serta langsung melakukan proses belajar bersamanya. Sehingga ilmu yang di dapat tidak samar. Al-Quran memotivasi kepada manusia untuk berjuang mencari ilmu dan memperdalam agama seperti firman Allah surat At-taubat 122 :
                        
122. tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.
Al-quran menggunakan istilah Annafir dalam ayat tersebut, padahal lafald annafir banyak digunakan dalam jihad, hal ini dimaksudkan bahwa mencari ilmu bagian dari jihat fi sabililah. ( Hal 208). Ada satu nasehat yang terkenal bagi orang yang mencari ilmu
لاتأخذ العلم من صحفي ولا القران من مصحفي
Jangan mengambil ilmu hanya dari teks2, tapi dalam alquran harus ambil dari teks. ( hal 209 )
Dalam mencari ilmu manusia juga harus belajar dari hewan sekalipun walaupun itu anjing. Karena anjing diajari untuk memburu buruannya dengan gesit, tapi dia tidak memakan buruannya tersebut tetapi buruan itu dimanfaatkan oleh hewan lain misalnya, demikian juga dalam mencari ilmu bukan untuk diri sendidri akan tetapi juga ditularkan dan berguna bagi manusia lain. (hal. 209) Dalam belajar juga diharuskan untuk mencari atau bertanya kepada guru – guru yang ahli dan kompeten seperti di firmankan Allah surat nahl. 43, anbiya’.7)
                
43. dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan[828] jika kamu tidak mengetahui,
               
7. Kami tiada mengutus Rasul Rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, Maka Tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.
Yang dimaksud orang ahli adalah orang – oaring yang mampu memecahkan persoalan, yang mampu mendiskusikan masalah – masalah, dann kesuliatan – kesulitan yang muncul.
Beberapa adab terpenting yang diajarkan Al-Quran dalam belajar antara lain ialah mencari tambahan ilmu dan berdo’a untuk menambah ilmu dan bertanya dengan pertanyaan dan cara yang baik . Dengan senantiasa berdoa untuk menambah ilmu, diharapkan manusia selalu merasa bahwa ilmu yang dimuilikinya belum sebarapa, betapapun cerdas ia. Sehingga diikuti dengan usaha untuk menambah ilmu sepanjang hayatnya (hal.210) . Adapun pertanyaan yang baik seperti ajarkan Al-quran ialah selalu mengajukan pertanyaan kepada ahlinya serta dengan cara yang baik, yaitu tidak mempersulit diri dengan pertanyaannya itu, seperti yang dilakukan oleh Bani israil ketika Allah menyuruh mereka untuk menyembelih seekor sapi betina ( hal. 215)
    •                               •                          •      •          •             •                       
67. dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.” mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan Kami buah ejekan?”[62] Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil”.
68. mereka menjawab: ” mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina Apakah itu.” Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu”.
69. mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami agar Dia menerangkan kepada Kami apa warnanya”. Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.”
70. mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami agar Dia menerangkan kepada Kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena Sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi Kami dan Sesungguhnya Kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu).”
71. Musa berkata: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.” mereka berkata: “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya”. kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu[63].
Al-quran juga menghimbau agar manusia siap menempuh jarak jauh apapun untuk mencari ilmu, apalagi jika sumber ilmu tidak terdapat di tempat sekitar kita. Siapapun ahlinya, apabila ia berilmu, wajib kita dartangi untuk dipelajari ilmunya, tanpa peduli usia dan derajatnya. Sebagaimana yang dilakukan Nabi Musa. Ketika ia mendatangai nabi Khidir. A. s untuk menuntut ilmu darinya (hal 212)
Adapun adab murid terhadap guru, seperti yang dicontohkan oleh nabi Musa As. Antara lain sebagai berikut :
1. Menjadikan dirinyab sebagai pengikut gurunya.
2. Minta izin untuk mengikuti gurunya
3. Mengakui kebodohan dirinya
4. Menunjukkan kerendahan hati dengan hanya meminta sebagian dari ilmunya yang berasal dari Allah
5. Mengakui hanya Allah yang memberikan ilmu
6. Senantiasa meminta petunjuk gurunya
7. Meminta gurunya untuk memperlakukan dirinya sebagaimana seorang hamba yang senantiasa diberi nikmat ilmu pengetahuan
8. Menyerahkan diri seepnuhnya kepada gurynya, tanpa menambah sedikitpun
9. Bersikap tawadhu dan tidak pernah menyombongkan diri dengan apa yang dimilikinya
Tiga unsure pokok yang harus dimiliki seorang pencari ilmu ialah ;
1. As-sam’u ( pendengaran )
2. Al-Basyar ( penglihatan )
3. Al-fuad (hati )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s